Kisah Habib An-Najr
Allah SWT telah berfirman yang bermaksud: Dan datanglah dari hujung kota seorang lelaki (Habib An-Najr) dengan bergegas-gegas ia berkata: Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutlah orang yang tidak meminta balasan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang menciptakan aku, dan yang hanya kepadaNyalah kamu akan dikembalikan? Mengapa aku menyembah tuhan-tuhan selainNya, jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, nescaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun pada diriku, dan mereka tidak dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman dengan Tuhanmu, maka dengarkanlah (pengakuan keimananku). Dikatakan kepadanya: Masuklah ke syurga. Ia berkata: Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan. (Surah Yaasiin: 20-27)
Itulah kisah seorang lelaki yang mendengar dakwah dan menerimanya, setelah dia melihat bukti-bukti kebenaran dan seruan yang disampaikan kepada kaumnya. Ketika hatinya merasa hakikat keimanan, hakikat itu bergerak di dalam hatinya, sehingga dia tidak boleh berdiam diri di rumah tanpa mengambil apa-apa tindakan dan hanya melihat kesesatan, kebatilan, kekufuran dan kemaksiatan berleluasa di sekelilingnya. Dia terus berjalan keluar membawa kebenaran yang telah meresap dan membara dalam perasaan dan hatinya. Ia berjalan menuju kepada kaumnya untuk mengatakan kebenaran, sedangkan mereka mendusta dan menolak kebenaran, bahkan mengancam untuk membunuhnya.
Dia datang jauh dari kota, untuk menunaikan kewajipan dakwah kepada kaumnya, iaitu mengajak mereka kepada kebenaran dan mencegah mereka dari kemungkaran serta menyeru mereka supaya jangan memusuhi para Rasul.
Secara zahirnya, dia bukanlah seorang lelaki yang berjawatan tinggi atau memegang kementerian atau seorang yang berkuasa. Malah dia tidak mendapat sokongan dari kaumnya mahupun dari keluaganya. Mengapa dia begitu berani dan apa yang mendorongnya untuk bergerak begitu jauh semata-mata untuk menyampaikan dakwah?
Proaktif aqidah yang hidup di hatinya yang menyebabkan dia berani dan sanggup berjalan jauh ke kota untuk menyampaikan dakwah. Dia bukan mencari upah dan tidak pula mencari keuntungan dunia. Sesunggguhnya dia adalah seorang hamba Allah yang sejati, hanya mengharapkan balasan dari Allah.
Seandainya tidak, apakah yang mendorongnya untuk bersusah payah seperti itu? Jika bukan kerana menunaikan seruan Allah, maka apa yang mendokongnya memikul beban dakwah dan menghadapi tentangan kaumnya yang menentang dakwah. Ia sanggup menghadapi kejahatan mereka, penghinaan dan penyeksaan dari kaumnya. Dia tidak menjadikan dakwahnya sebagai wasilah mencari wang dan tidak menuntut upah.
Sesungguhnya itu merupakan keprihatinan seorang daie terhadap masyarakatnya dan kecintaannya untuk menyelamatkan mereka dari azab neraka, seperti ia menyelamatkan dirinya. Cintanya kepada mereka adalah seperti kecintaannya terhadap diri sendiri.
Alangkah besarnya keprihatinan seorang daie! Suasana ini seperti tidak pernah kita lihat melainkan dalam fenomena dakwah kepada Allah. Cuba kita perhatikan bagaimana sikapnya, setelah kaumnya menentang dan memusuhinya, ia tidak berdendam, ia tidak berasa dengki dengan kekayan mereka dan ia tidak merasa sakit hati dengan penghinaan mereka.
Firman Allah S.W.T yang bermaksud: “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan” (Yaasiin: 26-27)
Dia yang beriman dan berdakwah kepada Allah, dia akan dapat apa yang dijanjikan oleh Allah kepadanya dalam syurga yang berupa keampunan dan kemuliaan. Dia memberi peringatan kepada kaumnya secara baik dan penuh kerelaan. Dia amat menginginkan sekiranya kaumnya boleh melihat kenikmatan yang diberikan oleh Allah S.W.T kepadanya yang berupa keredhaan, kemuliaan, agar mereka dapat mengenal kebenaran dengan yakin dan bersedia memeluknya.
Ibnua Abbas mengatakan “Dia memberi peringatan kepada kaumnya ketika masih hidup dan memberi peringatan kepada kaumnya setelah ia mati.”
Abu Sa’ud mengatakan “Sesungguhnya dia berangan-angan agar kaumnya mengetahui keadaannya yang penuh kenikmatan agar mendorong mereka untuk memperolehi pahala, dan bertaubat dari kekufuran untuk menerima keimanan, sebagaimana sunnah para Nabi yang mengasihani musuh-musuhnya”. Demikianlah seorang mukmin yang mukhlis itu terus menerus berdakwah pada kaumnya dengan penuh kasih sayang dan lemah-lembut dan penuh prihatin.

Oleh: Ustaz Muhammad bin Ismail,
Ahli Jawatankuasa ISMA Pusat
Blog: Renungan

